America as a New Eden: “City upon a Hill,” karya John Winthrop

Hari ini saya akan menjelaskan bagaimana teksnya John Winthrop bisa menjadi ironis atau epiphany.

City upon a Hill adalah frasa yang sering digunakan untuk merujuk pada sermon John Winthrop yang terkenal, “A Model of Christian Charity” hal itu diberikan di atas kapal Arbella tidak lama sebelum mencapai New England. Winthrop menyebut tempat baru mereka di Dunia Baru sebagai City upon a Hill yang akan ditonton oleh dunia untuk menginspirasi kaum Puritan.

Dalam kamus dari website Universitas Cambridge “Epiphany adalah sebuah momen dimana orang tiba-tiba menyadari atau menjadi sadar akan sesuatu yang sangat berharga untuknya”

Sermon John Winthrop menjadi “epiphany” karena mimpi orang-orang Puritan Inggris yang berharap migrasinya ke New England dapat merubah kehidupannya menjadi lebih baik, karena sebelumnya, di Inggris mereka tidak bebas beragama, sehingga berharap migrasinya ke New England bisa mendapatkan kebebasan dalam beragama. Withrop juga berharap tempat yang ditujunya, Massachusetts, akan menjadi City upon a Hill sehingga semua pandangan tertuju padanya. Dengan begitu, ia berharap bahwa New England akan menjadi contoh Puritan yang ada di Inggris dan Eropa.

“For wee must consider that wee shall be as a citty upon a hill. The eies of all people are upon us. Soe that if wee shall deale falsely with our God in this worke wee have undertaken, and soe cause him to withdrawe his present help from us, wee shall be made a story and a by-word through the world.”

Kutipan di atas menyadarkan kaum puritan, bahwa nantinya ketika telah sampai di Massachusetts, mereka harus membuatnya sebagai kota yang akan dipandang oleh banyak orang. Namun, ketika mereka melakukan kesalahan dan gagal, kegagalan itu juga akan terlihat oleh seluruh dunia.

Sermon ini memperlihatkan pola Socratic (Platonic) atau Irony. Irony sendiri merupakan majas yang mengungkapkan sendirian halus. Tulisan ini diperlihatkan oleh Socratic dalam tulisan Plato. Tokoh Socratis berlagak agak bodoh. Lagak seperti ini di pakai lewat dialog dengan lawan bicara yang sok tahu.

Sermon ini merupakan Ironi, karena khutbah seharusnya disampaikan oleh seseorang yang paham agama atau ahli agama. Namun, khutbahnya disampaikan oleh orang yang awam seperti Winthrop karena ia merupakan seorang politik. Dalam khotbahnya Winthrop mengatakan bahwa para puritan harus bisa membantu satu sama lain demi kelangsungan hidup mereka. Karena Tuhan menciptakan manusia dari berbagai tingkat kehidupan yaitu ada yang kaya dan miskin, kuat dan tak berdaya. Karenanya semua puritan harus saling membantu satu sama lain, yang kaya membantu yang miskin, kemudian yang tak berdaya di bantu oleh yang berdaya. Hal ini ada dalam kutipannya bahwa,

“Wee must delight in eache other; make other’s conditions our oune; rejoice together, mourne together, labour and suffer together, allwayes haueving before our eyes our commission and community in the worke, as members nsng same body.”

Sekian tulisan dari saya yang merupakan tugas kuliah.

Referensi:

https://study.com/academy/lesson/a-modell-of-christian-charity-by-john-winthrop-summary-analysis-quiz.html

https://www.ushistory.org/us/3c.asp

http://www.digitalhistory.uh.edu/disp_textbook.cfm?smtID=3&psid=3918

https://www.americanyawp.com/reader/colliding-cultures/john-winthrop-dreams-of-a-city-on-a-hill-1630/

https://www.solotrust.com/read/10352/Inilah-Arti-Kata-Epiphany//

komentar kelas di google classroom

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on linkedin
Share on pinterest
Share on telegram
Share on tumblr

YOU MIGHT ALSO LIKE

Leave a Comment