Filsafat Ilmu Pengetahuan Sains

Filsafat ilmu memiliki peran penting dalam konteks pengetahuan sains. Filsafat dan ilmu saling berkaitan secara substansial ataupun historis. Perkembangan ilmu tidak lepas dari peranan filsafat. Filsafat ilmu sangat penting untuk dibahas agar mendorong manusia lebih kreatif dan inovatif dan memberikan spirit bagi perkembangan dan kemajuan ilmu dan sekaligus nilai-nilai moral yang terkandung pada setiap ilmu baik pada tataran ontologis, epistemologis maupun aksiologi. Disiplin ilmu dalam perkembangannya membutuhkan pendekatan, sifat, objek, tujuan dan ukuran yang berbeda antara disiplin ilmu yang satu dengan yang lainnya. Di tulisan ini akan menjelaskan bagaimana cara sains menyelesaikan masalah.

Alur pengetahuan sains:

  1. Conciousness: Menyadari adanya masalah (Kesadaran tentang “yang ada” (being))
  2. Method of Doubth (Rene Descartes):
    ▪️Meragu-ragukan dan menguji secara rasional terhadap “anggapan-anggapan”(pre-asumsi).
    ▪️Memeriksa dan menguji penyelesaian-penyelesaian yangterdahulu
  3. Hypotetico: Menyarankan hipotesis (baru) berupakan pembuktian yang memperkuat atau membantah.
  4. Theoritization: Menarik Kesimpulan.
  5. Verificatico: Memeriksa dan menguji penyelesaian-penyelesaian yang terdahulu.

Aspek-aspek ilmu

Dalam garis besarnya filsafat ilmu mempunyai tiga cabang besar yaitu:
1. Teori hakikat (Ontologi)
2. Teori pengetahuan (Epistemologi)
3. Teori nilai (Aksiologi)

Ontologi

Istilah ontologi, secara bahasa berasal dari bahasa yunani, ontos dan logos. Ontos berarti sesuatu yang berwujud, sedangkan logos berarti ilmu atau teori. Dengan demikian secara bahasa ontologi dapat diartikan sebagai ilmu atau teori tentang wujud, tentang hakikat yang ada. Sedangkan yang dimaksud ontologi dalam pengertian terminologisnya adalah kajian filosofis tentang hakikat segala sesuatu atau realitas yang ada yang memiliki sifat universal, untuk memahami adanya eksistensi (keberadaannya).

Aspek ontologi membicarakan hakikat (segala sesuatu), berupa ilmu atau teori tentang wujud atau hakekat dari sesuatu yang ada. Baik secara jasmani maupun secara rohani yang berdasarkan pada logika. Ada disini bukan sekedar “eksis” namun sebagai “the study of being” Abdelhamid Ahmed (2008), disini berarti segala sesuatu yang ada, tidak hanya eksis. Apa dan bagaimana sebenarnya ilmu pengetahuan yang ada itu. Jadi ontologi itu penting karena kita mempelajari bagaimana keberadaan sesuatu yang sudah ada itu muncul. Ontologi ini bagian dari metafisika. Menurut Bahrum (2013:37), “Metafisika membicarakan segala sesuatu yang dianggap ada, mempersoalkan hakekat. Hakekat ini tidak dapat dijangkau oleh panca indera karena tak terbentuk, berupa, berwaktu dan bertempat.”

“Ontologi merupakan suatu teori tentang makna dari suatu objek, properti dari suatu objek, serta relasi objek tersebut yang mungkin terjadi pada suatu domain pengetahuan. Ringkasannya, pada tinjauan filsafat, Ontologi adalah studi tentang sesuatu yang ada”

(Dr. Nunu Burhanuddin, Lc., M.A,2018:51-52).

Fungsi atau manfaat dari aspek ontologi adalah untuk memberikan ide atau gambaran suatu hal atau objek nyata yang telah kita ketahui namun masih dapat dikembangkan oleh pikiran kita. Membantu mengkritisi lalu mengembangkan berbagai sistem pemikiran yang ada, menyelesaikan masalah relasi, dan dapat mengeksplorasi secara mendalam terhadap masalah. Dalam kutipan Afid Burhanuddin dalam blognya, “Ontologi pengetahuan filsafat adalah ilmu yang mempelajari suatu yang ada atau berwujud berdasarkan logika sehigga dapat diterima oleh banyak orang yang bersifat rasional dapat difikirkan dan sudah terbukti keabsahaanya.”

Contoh ontologi dalam kehidupan sehari-hari adalah gambaran mengenai permukaan atau lapisan bumi yang dapat atau sudah kita ketahui walaupun tidak secara langsung, namun melalui buku atau globe yang dimana gambaran permukaan bumi itu masih dapat kita kembangkan.

Epistemologi

Pengertian dari epistemologi adalah objek yang dipelajari itu sendiri, dalam jurnal Abdelhamid Ahmed (2008) dikatakan bahwa epistemologi adalah, “A way of understanding and explaining how we know what we know”. Jadi menurutnya epistemologi adalah cara sebuah objek filsafat/ilmu diberi atau dimengerti, membahas tentang proses mendapatkan ilmu. Sedangkan dalam bukunya Ahmad Tafsir (2004) dikatakan, “Epistemologi membahas cara memperoleh dan ukuran kebenaran pengetahuan filsafat”. Maka epistemologi memiliki peranan yang penting dalam memvalidasi sebuah ilmu, karena menurutnya epistemologi menjadi dasar kita untuk memperoleh dan mengukur kebenarannya. Berusaha memberi definisi ilmu pengetahuan, membedakan cabang-cabangnya yang pokok, mengidentifikasi sumber-sumbernya. Epistemologi lebih kepada menguji kebenaran dalam kegiatan ilmiah. Epestemologi itu sendiri selalu dikaitkan dengan ontologi dan aksiologi ilmu.

“Epistemologi adalah suatu disiplin ilmu yang bersifat evaluatif, normatif, dan kritis. Evaluatif berarti bersifat menilai, ia menilai apakah suatu keyakinan, sikap, pernyataan pendapat, teori pengetahuan dapat dibenarkan, dijamin kebenarannya, atau memiliki dasar yang dapat dipertanggungjawabkan secara nalar”

(J.Sudarminta, 2002:18-19)

Fungsi dalam aspek epistimologi adalah untuk menangkap serta menampakkan suatu informasi yang ditangkap oleh panca indera kita yang dimana informasi tersebut akan dianalisa oleh akal atau pikiran kita. Membahas tentang apa yang dimaksud dengan pengetahuan, bagaimana seseorang bisa mengetahui sesuatu, bagaimana cara memperoleh pengetahuan, bagaimana cara menilai validitas, serta apa perbedaan antara pengetahuan apriori dan pengetahuan apoteriori. Tidak hanya itu, epistemologi juga membahas perbedaan yang ada antara kepercayaan, pengetahuan, pendapat, fakta, kenyataan, kesalahan, gagasan, kebenaran, kepastian dan kebolehjadian.

Contoh epistemologi dalam kehidupan sehari-hari adalah seperti cara kita untuk mengetahui seseorang yang telah lama tidak kita jumpai bertahun-tahun yang lalu dimana bentuk wajah orang tersebut telah berubah namun kita masih dapat mengenali nya dengan pasti.

Aksiologi

Terakhir Aksiologi, aksiologi juga berasal dari bahasa yunani, terdiri juga atas 2 kata yaitu axios yang berarti nilai dan logos yang berarti ilmu. Dalam buku Ahmad Tafsir dikatakan secara singkat bahwa, aksiologi, membicarakan kegunaan pengetahuan atau manfaat dalam sebuah pengetahuan. Jadi aksiologi merupakan cabang filsafat tentang nilai yaitu studi terhadap watak dasar nilai-nilai atau pertimbangan dalam suatu ilmu pengetahuan dan penerapan dari pengetahuan atau objek pengetahuan yang diteliti, sedangkan menurut Laura Killam (2013) “Axiology is a terms that deals with ethics, aesthetic, and religion”. Maka aksiologi tidak hanya terpatok pada kegunaan atau penerapan objek pengetahuan, namun juga etika, keindahan juga agama didalamnya.

“Aksiologi adalah cabang filsafat yang ingin mereflesikan cara bagaimana menggunakan ilmu pengetahuan diperoleh”

(Muhamad Mufid, 2012:88-89)

Manfaat atau fungsi Aksiologi adalah untuk memberikan suatu pemikiran tentang suatu objek yang tertangkap panca indera kita, tentang apakah objek tersebut bermanfaat bagi kehidupan kita sehari-hari atau tidak.  Yang menjadi landasan dalam tataran aksiologi adalah untuk apa pengetahuan itu digunakan? Bagaimana hubungan penggunaan ilmiah dengan moral etika? Bagaimana penentuan obyek yang diteliti secara moral? Bagimana kaitan prosedur ilmiah dan metode ilmiah dengan kaidah moral? Berkaitan dengan etika, moral, dan estetika.

Contoh Aksiologi dalam kehidupan sehari-hari adalah dimana kita menciptakan sebuah karya atau objek dari hasil pemikiran kita dan kita sebagai pencipta nya sudah tahu pasti apa saja kegunaan dari objek yang telah kita ciptakan tersebut.

Referensi sumber bacaan:

Ahmad Tafsir. (2004): Filsafat Ilmu

Abdelhamid Ahmed. (2008): Ontological, Epistemological and Methodological Assumptions: Qualitative Versus Quantitative.

Laura Killam (2013): Research terminology simplified: Paradigms, axiology, ontology, epistemology

https://afidburhanuddin.wordpress.com/2012/11/28/ontologi-epistimologi-dan-aksiologi-dalam-pengetahuan-filsafat/

http://journal.uin-alauddin.ac.id/index.php/sls/article/download/1276/1243

https://pakarkomunikasi.com/ontologi-epistemologi-dan-aksiologi

https://www.kompasiana.com/amp/aidilazmy/ontologi-ilmu-pengetahuan_551aaf8ca333114c21b65947

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on linkedin
Share on pinterest
Share on telegram
Share on tumblr

YOU MIGHT ALSO LIKE

3 thoughts on “Filsafat Ilmu Pengetahuan Sains”

Leave a Comment