“The Hero as Prophet. Mahomet: Islam Lecture 2: Heroes & Hero Worship” karya Thomas Carlyle

Saya akan menguraikan pemahaman saya mengenai karya Thomas Carlyle, karena ini bagian dari tugas kuliah saya hehe.

Thomas Carlyle mewakili Barat atau Eropa dan Amerika untuk mencapai dominasi. Tulisan Carlyle merujuk pada pengertian orientalism, dikutip dari tulisan Jalal dalam blognya bahwa,

”Orientalisme adalah suatu cara yang digunakan oleh Barat, orang-orang Eropa, untuk mendominasi, merestrukturisasi, dan menguasai Timur, dan dalam hal ini termasuk Islam”.

Di awal tulisan, Carlyle cukup memperlihatkan bahwa ia mengakui bahwa Mahomet adalah seorang nabi yang benar. Ia juga sepintas memuji kehebatan Nabi terakhir bagi umat Islam dan mengakui keunggulan beliau.

“We have choosen Mahomet not as the most eminent Prophet: but as the one we are freest to speak of. He is by no means the truest of Prophets; but I do esteem him a true one. (Carlyle, 1840: 27)

Hal ini dipresentasikan dalam frasa “The Hero as Prophet” yang mengandung pleonasme. Seperti yang telah dijelaskan mengenai makna “Hero” dan “Prophet”, kedua kata ini memiliki makna yang kuat. Ketika digabungkan sebagai judul hal ini menjadi penegasan atau memperkuat sifat bahwa dalam tulisan Carlyle ini ingin memuji Mahomet.

Pendapat ironi Charlyle mengatakan bahwa, “Great Men should rule and that others should revere them,” dimana kalimat ditujukan untuk orang lain terhadap Mahomet untuk menghormatinya berbalik dengan fakta yang terjadi. Mahomet dalam kenyataannya menerima banyak penghinaan termasuk dalam tulisan Carlyle sendiri.

Lalu hal yang mengganjal mulai terlihat ketika Carlyle menganggap bahwa Mahomet adalah objek yang bebas untuk diperbincangkan, seperti dalam kutipan, “But as the one we are freest to speak of.” Seperti yang telah kita ketahui bahwa Carlyle berasal dari British, apakah ia melakukan hal tersebut kepada Nabi besar umat Islam karena latar belakang dan ideology yang berbeda?

Berkaitan dengan kutipan yang mengganjal, ia menunjukkan sebuah wacana penghinaan dan pelecehan, yang membuat hal ini menjadi alasan tulisannya merupakan karya orientalism. Seperti dalam kutipannya yang mengandung sinisme dengan kata-kata yang kasar untuk seorang Nabi,

“Our current hypotesis about Mahomet, that he was a scheming Impostor, a Falsehood incarnate, that his religion isa mere mass of quackery and fatuity, begins really to be now untenable to any one ” (Carlyle, 1840: 27)

Tulisan Charlyle adalah paradox, judul dan tulisannya yang memuji Mahomet di awal sangat bertentangan dengan tujuannya yang menghina diakhir. Metafora dalam kutipan Carlyle pada akhirnya terungkap, ia memiliki niat dan maksud yang hendak dicapai. “On the whole, we will repeat that this religion of Mahomet’s is a kind of Christianity; has a genuine element of what is spiritually highest looking through it, not to be hidden by all its imperfections.” (Carlyle, 1840: 45)

Link referensi:

https://jalal34.wordpress.com/2013/12/23/wacana-orientalisme-dalam-lecture-ii-the-hero-as-prophet-mahomet-islam-karya-thomas-carlyle/

https://en.wikipedia.org/wiki/On_Heroes,_Hero-Worship,_and_The_Heroic_in_History

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on linkedin
Share on pinterest
Share on telegram
Share on tumblr

YOU MIGHT ALSO LIKE

Leave a Comment